Kamis, 19 Oktober 2017

ANTIHISTAMIN
Antihistamin (antagonis histamin) adalah zat yang mampu mencegah penglepasan atau kerja histamin. Istilah antihistamin dapat digunakan untuk menjelaskan antagonis histamin yang mana pun, namun seringkali istilah ini digunakan untuk merujuk kepada antihistamin klasik yang bekerja pada reseptor histamin H1. 
Antihistamin ini biasanya digunakan untuk mengobati reaksi alergi, yang disebabkan oleh tanggapan berlebihan tubuh terhadap alergen (penyebab alergi), seperti serbuk sari tanaman. Reaksi alergi ini menunjukkan penglepasan histamin dalam jumlah signifikan di tubuh.

MACAM-MACAM ANTIHISTAMIN
1.  Antihistamin (AH1) non sedatif.
a.    Terfenidin
           Merupakan suatu derivat piperidin, struktur kimia. Terfenidin diabsorbsi sangat cepat dan mencapai kadar puncak setelah 1-2 jam pemberian. Mempunyai mula kerja yang cepat dan lama kerja panjang. Obat ini cepat dimetabolisme dan didistribusi luas ke berbagai jaringan tubuh. Terfenidin diekskresi melalui faeces (60%) dan urine (40%). Waktu paruh 16-23 jam. Efek maksimum telah terlihat sekitar 3-4 jam dan bertahan selama 8 jam setelah pemberian. Dosis 60 mg diberikan 2 X sehari.
b.     Astemizol 
            Merupakan derivat piperidin yang dihubungkan dengan cincin benzimidazol, struktur kimia. Astemizol pada pemberian oral kadar puncak dalam darah akandicapai setelah 1 jam pemberian. Mula kerja lambat, lama kerja panjang. Waktu paruh 18-20 hari. Di metabolisme di dalam hati menjadi metabolit aktif dan tidak aktif dan di distriibusi luas keberbagai jaringan tubuh. Metabolitnya diekskresi sangat lambat, terdapat dalam faeses 54% sampai 73% dalam waktu 14 hari. Ginjal bukan alat ekskresi utama dalam 14 hari hanya ditemukan sekitar 6% obat ini dalam urine. Terikat dengan protein plasma sekitar 96%.
c.    Mequitazin
            Merupakan suatu derivat fenotiazin, struktur kimia lihat Gbr.1. Absorbsinya cepat pada pemberian oral, kadar puncak dalam plasma dicapai setelah 6 jam pemberian. Waktu paruh 18 jam, Onset of action cepat, duration of action lama. Dosis 5 mg 2 X sehari atau 10 mg 1 X sehari (malam hari).
d.    Loratadin 
            Adalah suatu derivat azatadin, Penambahan atom C1 meninggikan potensi dan lama kerja obat loratadin. Absorbsinya cepat. Kadar puncak dicapai setelah 1 jam pemberian. Waktu paruh 8-11 jam, mula kerja sangat cepat dan lama kerja adalah panjang. Waktu paruh descarboethoxy-loratadin 18-24 jam. Pada pemberian 40 mg satu kali sehari selama 10 hari ternyata mendapatkan kadar puncak dan waktu yang diperlukan tidak banyak berbeda setiap harinya hal ini menunjukkan bahwa tidak ada kumulasi, obat ini di distribusi luas ke berbagai jaringan tubuh. Matabolitnya yaitu descarboetboxy-loratadin (DCL) bersifat aktif
secara farmakologi clan juga tidak ada kumulasi. Loratadin dibiotransformasi dengan cepat di dalam hati dan di ekskresi 40% di dalam urine dan 40% melalui empedu. Pada waktu ada gangguan fiungsi hati waktu paruh memanjang. Dosis yang dianjurkan adalah 10 mg 1 X sehari.
2.    Terdapat beberapa jenis antihistamin, yang dikelompokkan berdasarkan sasaran kerjanya terhadap reseptor histamin.
a.  Antagonis Reseptor Histamin H1
Secara klinis digunakan untuk mengobati alergi. Contoh obatnya adalah: difenhidramina, loratadina, desloratadina, meclizine, quetiapine (khasiat antihistamin merupakan efek samping dari obat antipsikotik ini), dan prometazina.
b.  Antagonis Reseptor Histamin H2
Reseptor histamin H2 ditemukan di sel-sel parietal. Kinerjanya adalah meningkatkan sekresi asam lambung. Dengan demikian antagonis reseptor H2 (antihistamin H2) dapat digunakan untuk mengurangi sekresi asam lambung, serta dapat pula dimanfaatkan untuk menangani peptic ulcer dan penyakit refluks gastroesofagus. Contoh obatnya adalah simetidina, famotidina, ranitidina, nizatidina, roxatidina, dan lafutidina.
c.  Antagonis Reseptor Histamin H3
Antagonis H3 memiliki khasiat sebagai stimulan dan memperkuat kemampuan kognitif. Penggunaannya sedang diteliti untuk mengobati penyakit Alzheimer's, dan schizophrenia. Contoh obatnya adalah ciproxifan, dan clobenpropit.
d.  Antagonis Reseptor Histamin H4
Memiliki khasiat imunomodulator, sedang diteliti khasiatnya sebagai antiinflamasi dan analgesik. Contohnya adalah tioperamida.Beberapa obat lainnya juga memiliki khasiat antihistamin. Contohnya adalah obat antidepresan trisiklik dan antipsikotik. Prometazina adalah obat yang awalnya ditujukan sebagai antipsikotik, namun kini digunakan sebagai antihistamin.
Senyawa-senyawa lain seperti cromoglicate dan nedocromil, mampu mencegah penglepasan histamin dengan cara menstabilkan sel mast, sehingga mencegah degranulasinya.
Derivat Fenotiazin
Farmakodinamik : Salah satu derivat dari fenotiazin adalah Klorpromazin (CPZ) adalah 2-klor-N-(dimetil-aminopropil)-fenotiazin. Derivat fenotiazin lain dapat dengan cara substitusi pada tempat 2 dan 10 inti fenotiazin. CPZ (largactill) berefek farmakodinamik sangat luas. Largactill diambil dari kata large action. Sususan Saraf  Pusat : CPZ  menimbulkan efek sedasi disertai sikap acuh tak acuh terhadap rangasangan lingkungan. Pada pemakaina lama dapat timbul toleransi terhadap efek sedasi. Timbulnya sedasi amat tergantung dari status emisinal penderita sebelum minum obat.  Klorpromazin berefek antispikosis terlepas dari efek sedasinya. CPZ menimbulkan efek menenangkan pada hewan buas. Efek ini juga dimiliki oleh obat obat lain, misalnya barbiturat, narkotij, memprobamat, atau klordiazepoksid. Bebeda dengan barbiturat, CPZ tidak dapat mencengah timbulnya konvulsi akibat rangsang listrik maupun rangsang obat. Semua derivat fenotiazin mempengaruhi gangglia basal, sehimgga menimbulkan gejala parkinsonisme (efek ekstrapiramidal ).CPZ dapat mempengaruhi atau mencengah muntah yang disebabkan oleh rangsangan pada chemo reseptor trigger zone. Muntah disebabkan oleh kelainan saluran cerna atau vestibuler.fenotiazin terutama yang potensinya rendah menurunkan ambang bangkitan sehingga penggunanya pada pasien epilepsi harus berhati-hati. Otot Rangka: CPZ dapat menimbulkan relaksasi otot skelet yang berada daam keadaan spastik. Cara kerjanya relaksasi ini diduga bersifat sentral, sebab sambungan saraf otot dan medula spinalis tidak dipengaruhi CPZ.
Farmakokinetik:
Kebanyakan antipsikosis absorbsi sempurna, sebagian diantaranya mengalami metabolisme lintas pertama. Biovailabilitas klorpromazin dan tioridazin berkisar antara 25-35%  sedangkan haloperidol mencapai 65%. Kebanyakan antipsikosis bersifat larut dalam lemak danterikat kuat dengan protein plasma(92-99%) serta mamiliki volume distribusi besar ( >7 L/kg). Metabolit klorpromazin ditemukan di urin sampai beberapa minggu setelah pemberian obat terakhir.
Mekanisme kerja:
Obat anti psikosis memblokade dopamine pada reseptor pasca sinaptik neurondi otak, prosesnya di sistem limbik dan sistem ekstrapiramidal (dopamine D2 reseptor antagonis). Obat anti psikosis yang baru (misalnya risperidone) di samping berafinitas terhadap dopamine D2 reseptor juga terhadap serotonin.
Efek samping:
CPZ menghambat ovulasi dan menstruasi. CPZ juga menghambat sekresi ACTH. Efek terhadap sistem endrokin ini terjadi berdasarkan efeknya terhadap hipotalamus. Semua fenotiazin, kecual klozapin enimbulkan hiperprolaktinea lewat penghambatan efek sentral dopamin.batas keamanan CPZ cukup lebar, sehingga obat ini cukup aman. Efek samping umumnyamerupaan perluasan efek farmakodinamiknya. Gejala idiosinkrasi mungkin timbul,berupa ikterus, dermatitis dan leukopenia. Reaksi ini disertai eosinofilia dalam darah perifer.
Kardiovaskular: CPZ dapat menimbulkan hipotensi berdasarkan beberapa hal, yaitu:
·        Refleks presor yang penting untuk mempertahankan tekanan darah yang dihambat oleh CPZ.
  • CPZ berefek a-bloker.
  • CPZ menimbulkan efek intropotik negatif pada jantung.
Derivat etilendiamin
1.     Antazolin efek antihistaminnya tidak terlalu kuat tetapi tidak merangsang selaput lendir sehingga cocok digunakan pada pengobatan gejala-gejala alergis pada mata dan hidung.
a)     Ripelenamin
digunakan sebagai krem pada gatal-gatal pada alergi terhadap sinar matahari, sengatan serangga dan lain-lain.
b)     Mepirin
derivat metoksi dari tripilennamin yang digunakan dalam kombinasi dengan feneramin dan fenilpropanolamin terhadap hypiper.
c)     Klemizol
adalah derivat –klor yang hanya digunakan pada salep atau suppositoria antiwasir.
Derivat provilamin
1)     Feniramin : Memiliki daya kerja antihistamin dan meredakan efek batuk yang cukup baik.
2)     Klorfeneramin  : adalah derivat klor dengan daya kerja 10x lebih kuat dan dengan derajat toksisitas yang sama.
3)      Deksklorfeneramin : Adalah bentuk dekltronya 2x lebih kuat dari pada bentuk trasemisnya.
4)     Tripolidin : Adalah derivat dengan rantai sisi pirolidin yang daya kerjanya agak kuat. Mulai kerjanya pesat dan bertahan lama sampai 24jam (tablet retard).
Sifat-sifat dan mekanisme kerja antihistaminika
Antihistaminika adalah zat-zat yang dapat mengurangi atau menghindarkan efek atas tubuh dari histamin yang berlebihan, sebagaimana terdapat pada gangguan-gangguan alergi. Bila dilihat dari rumus molekulnya, bahwa inti molekulnya adalah etilamin, yang juga terdapat dalam molekul histamin. Gugusan etilamin ini seringkali berbentuk suatu rangkaian lurus, tetapi dapat pula merupakan bagian dari suatu struktur siklik,misalnya antazolin.
Antihistaminika tidak mempunyai kegiatan-kegiatan yang tepat berlawanan dengan histamin seperti halnya dengan adrenalin dan turunan-turunannya, tetapi melakukan kegiatannya melalui persaingan substrat atau ”competitive inhibition”. Obat-obat inipun tidak menghalang-halangi pembentukan histamin pada reaksi antigen-antibody, melainkan masuknya histamin kedalam unsur-unsur penerima didalam sel (reseptor-reseptor) dirintangi dengan menduduki sendiri tempatnya itu. Dengan kata lain karena antihistaminik mengikat diri dengan reseptor-reseptor yang sebelumnya harus menerima histamin, maka zat ini dicegah untuk melaksanakan kegiatannya yang spesifik terhadap jaringan-jaringan. Dapat dianggap etilamin lah dari antihistaminika yang bersaing dengan histamin untuk sel-sel reseptor tersebut.
Efek samping
Karena antihistaminika juga memiliki khasiat menekan pada susunan saraf pusat, maka efek sampingannya yang terpenting adalah sifat menenangkan dan menidurkannya. Sifat sedatif ini adalah paling kuat pada difenhidramin dan promethazin, dan sangat ringan pada pirilamin dan klorfeniramin. Kadang-kadang terdapat stimulasi dari pusat, misalnya pada fenindamin. Guna melawan sifat-sifat ini yang seringkali tidak diinginkan pemberian antihistaminika dapat disertai suatu obat perangsang pusat, sebagai amfetamin. Kombinasi dengan obat-obat pereda dan narkotika sebaiknya dihindarkan. Efek sampingan lainnya adalah agak ringan dan merupakan efek daripada khasiat parasimpatolitiknya yang lemah, yaitu perasaan kering di mulut dan tengg orokan, gangguan-gangguan pada saluran lambung usus, misalnya mual, sembelit dan diarrea. Pemberian antihistaminika pada waktu makan dapat mengurangi efek sampingan ini.

PERTANYAAN 
  1. Apakah anak usia dibawah 3 tahun dapat menggunakan obat fenotiazin ?
  2. Apakah ada obat dari bahan alam untuk mengatasi alergi ?
  3. Bagaimana mekanisme antihistamin dalam mengatasi alergi ?
  4. CTM termasuk obat antihistamin turunan apa ?

44 komentar:

  1. hi hesty, saya akan bantu menjawab pertanyaan nomor 1. ya bisa diberikan pada anak namun harus ada pengontrolan dosis dan kesesuaian pemakaian agar tidak menimbulkan efek yang tidak di inginkan, contohnya proklorperazin yang berindikasi untuk mual, muntah berat dan gangguan labirin dapat diberikan pada anak 6-12 tahun: 1,5-3 mg, 2-3 kali sehari; 2-5 tahun: 1,5 mg, 2 kali sehari. Hindari pemakaian pada anak dengan berat badan kurang dari 10 kg.

    BalasHapus
    Balasan
    1. pengontrolan dosis itu maksudnya penurunan dosis ya suci? atau monitoring dalam penggunaan obat nya?

      Hapus
    2. pengontrolan dosis disini maksudnya penurunan dosis penggunaan kak seperti misalnya pada awalnya 20mg kemudian 10mg setelah 2 jam. dosis untuk pencegahan emesis (muntah): 5-10mg b.d. atau t.d.s. p.r.:25mg, jika perlu diikuti dengan dosis oral setelah 6 jam. Untuk migren dosis yang digunakan: 5 mg t.d.s.

      Hapus
    3. sedangkan untuk monitoring disini dalam penggunaan sepertinya memang sudah menjadi keharusan pada setiap pemberian obat ini pada anak karena obat ini dapat menimbulkan efek sedatif.

      Hapus
  2. Baiklah hesty, saya akan menjawab pertanyaan no. 4 CTM merupakan turunan dari propilamin dimana ctm ini mempunyai aktivitas lebih besar 20 kali dari feniramin maleat yang juga merupakan turunan dari propilamin

    BalasHapus
  3. menurut saya jawaban no 4 Klorfeniramin maleat merupakan obat golongan antihistamin penghambat reseptor H1 (AH1).Pemasukan gugus klor pada posisi para cincin aromatik feniramin maleat akan meningkatkan aktifitas antihistamin.

    BalasHapus
  4. Saya akan membantu menjawab pertanyaan No 1 &- Boleh digunakan pada anak-anak namun penggunaannya terbatas dan apabila dikonsumsi dalam jangka panjang oleh anak-anak dikhawatirkan bukan efek terapi yang di muncul melainkan efek toksik

    BalasHapus
  5. Saya akan mencoba menjawab pertanyaan nomor 3.
    Berdasarkan beberapa buku yang saya baca tubuh kita memiliki zat kimia bernama histamin. Ketika ada zat-zat berbahaya seperti virus atau bakteri masuk ke dalam tubuh, histamin akan muncul dan bereaksi melawan zat tersebut. Perlawanan histamin melawan zat berbahaya ini bisa membuat tubuh mengalami peradangan atau inflamasi.Namun, jika Anda memiliki alergi, histamin tidak bisa membedakan mana zat berbahaya dan tidak. Hasilnya, ketika ada zat tidak berbahaya seperti makanan, debu, atau serbuk sari, tubuh tetap mengalami peradangan atau reaksi alergi. Beberapa contoh reaksi alergi yang terjadi seperti kulit gatal, memerah dan membengkak, pilek, bersin-bersin, mata bengkak dan lainnya.

    Obat antihistamin bisa menghentikan histamin dalam memengaruhi sel tubuh untuk mengeluarkan reaksi alergi tersebut.

    Biasanya, antihistamin jenis tablet dapat mulai bekerja dalam waktu setengah jam setelah diminum. Anda bisa merasakan efeknya secara maksimal setelah 1 – 2 jam dari waktu pengonsumsian.

    BalasHapus
  6. Baik hesty saya akan mencoba untuk menjawab pertanyaan saudari yg no 1. Jadi begini,obat fenotiazin ini boleh digunakan atau diberikan pada anak yang usia dibawah 10 tahun. Tetapi dengan catatan bahwa penggunaan obat ini tidak di anjurkan untuk jangka panjang karena apa? Karena jika diberikan terus menerus maka bukan menimbulkan efek yang baik tetapi bisa memberikan efek toxic pada penderita.
    Dan juga dosis yang di berikan harus sesuai dengan anjuran dari dokter... Terimakasih

    BalasHapus
  7. hai hesty disini saya juga akan menjawab pertanyyan no 4,jadi ctm itu merupakan turunan dari propilamin

    BalasHapus
  8. saya akan mencoba menjawab pertanyaan no 4 :
    chlorfeniramin maleat adalah turunan alkilamin yang merupakan antihistamin dengan indeks terapetik (batas keamanan) cukup besar dengan efek samping dan toksisitas yang relatif rendah

    BalasHapus
  9. saya akan membantu menjawab pertanyaan no 2
    jadi obat turunan fenotiazin jika digunakan dalam jangka panjang akan menyebabkan karena dapat menimbulkan efek sedasi yaitu zat-zat yang dalam dosis terapi yang rendah dapat menekan aktivitas mental, menurunkan respons terhadap rangsangan emosi sehingga menenangkan, hal ini lah yang menyebabkan terjadinya ketergantungan.

    BalasHapus
  10. saya akan membantu pertanyaan no 3
    Anti histamin yang digunakan sebagai anti alergi adalah golongan antagonis reseptor H1 atau AH1. Secara farmakodinamik, AH1 dapat menghambat efek histamin pada pembuluh darah, bronkus dan bermacam otot polos. AH1 bermanfaat untuk mengobati reaksi hipersensitivitas atau keadaan lain yang disertai pelepasan histamin endogen berlebihan. Bronkokonstriksi, peninggian permeabilitas kapiler dan edema akibat histamin dapat dihambat dengan baik.

    Mekanisme aksi dari antihistamin diantaranya adalah:

    Mengeblok kerja histamin pada reseptornya,
    Berkompetisi dengan histamin untuk mengikat reseptor yang masih kosong. Jika histamin sudah terikat, antihistamin tidak bisa memindahkan histamin.
    Pengikatan AH1 mencegah efek merugikan akibat stimulasi histamin seperti vasodilatasi, peningkatan sekret gastrointestinal dan respirasi serta peningkatan permeabilitas kapiler.


    Interaksi histamin dengan reseptor H1 menyebabkan kontraksi otot polos usus dan bronki, meningkatkan permeabilitas vascular dan meningkatkan sekresi mucus. Interaksi dengan reseptor H1 juga menyebabkan vasodilatasi arteri sehingga menyebabkan sembab, pruritik, dermatitis dan urtikaria. Efek ini diblok oleh antagonis H1.

    BalasHapus
  11. hes, saya akan menambahkan mengenai mekanisme anti histamin
    yaitu anti histamin terutama yang antagonis H1 yaitu anti histamin yang menghambat reseptor h1. ketika histamin dilepaskan oleh sel mast karena terjadinya reaksi alergi menyebabkan terjadinya vasodilatasi pada sel endotelia. Vasodilatasi mengakibatkan keluarnya cairan sehingga terjadi swelling. oleh karena itu obat antihistamin H1 akan berikatan dengan reseptor acetilkolin sehingga histamin tidak dapat berikatan dengan reseptor, dan mencegah terjadinya alergi.

    BalasHapus
  12. untuk pertanyaan no.4 saya sependapat bahwa CTM merupakan turunan dari propilamin yang memiliki gugus Feniramin berupa gugus fenil, gugus 2-piridil aril & gugus dimetilamino terminal

    BalasHapus
    Balasan
    1. saya setuju dengan jawaban dyah, ctm merupakan turunan dari propilamin
      Menurut yang saya dapatkan dari literatur, klorinasi ferinamin pada posisi para dari cincin fenil memberikan kenaikan potensi 10 x dengan perubahan toksisitas tidak begitu besar.

      Hapus
  13. Saya akan membantu menjawab pertanyaan no 4 CTM adalah antihistamin turunan alkilamin.

    BalasHapus
  14. hes,saya ingin mencoba menjawab soal no 4 :
    Klorfeniramin maleat adalah turunan alkilamin yang merupakan antihistamin dengan indeks terapetik (batas keamanan) cukup besar dengan efek samping dan toksisitas yang relatif rendah

    BalasHapus
  15. Haloo. Saya akan menjawab pertanyaan nomor 4.
    Klorfeniramin maleat merupakan turunan alkilamin/propilamin. Karena turunan alkilamin sama dengan propilamin, dimana pada struktur umumnya sama-sama memiliki gugus feniramin. Dann, struktur ctm memiliki gugus feniramin

    BalasHapus
  16. Assalamualaikum, saya hilda nofitriana akan menjawab pertanyaan untuk point ke 4. CTM (klorfeniramin maleat) merupakan obat antihistamin turunan propilamin, khususnya turunan propilamin tak jenuh. terimakasih

    BalasHapus
  17. saya ingin menjawab pertanyaan anda no 2 yaitu selain obat kimia juga ada obat dari alam seperti buah-buahan yang mengandung vitamin C, dan madi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sedikit menambahkan bahwa bahan alami bnyak yg digunakan untuk mengatasi alergi trsebut

      Hapus
  18. saya ingin menjawab pertanyaan anda no 2 yaitu selain obat kimia juga ada obat dari alam seperti buah-buahan yang mengandung vitamin C, dan madi

    BalasHapus
  19. No 3. antihistamin bekerja dengan kompetitif terhadap histamin pada reseptor H1 sehingga histamin tidak dapat berikatan pada reseptor, sehingga tidak terjadinya reaksi alergi

    BalasHapus
  20. Pertanyaan no.3
    Antihistamin atau penghambat H1, bersaing dengan histamin untuk menduduki reseptor, sehingga menghambat respon histamin. Penghambatan H1 disebut juga antagonis histamin. ada 2 tipe reseptor histamin, H1 dan H2, keduanya menyebabkan respon yang berbeda. Bila H1 dirangsang, otot-otot polos ekstravaskuler, termasuk otot-otot yang melapisi rongga hidung akan berkontriksi. Pada perangsangan H2 terjadi peningkatan sekresi gastrik, yang menyebabkan terjadinya tukak lambung.
    Antagonis H1 biasanya diabsorbsi dengan baik di saluran cerna. Setelah pemberian oral, kadar puncak plasma dicapai dalam 2-3 jam dan efeknya berakhir 4-6 jam. Walaupun demikian ada beberapa obat yang kerjanya lebih lama, misalnya klemastin, setirizin, terfenadin (12-24 jam), sedangkan astemizol 24 jam. Penelitian yang intensif pada obat pertama terbatas. Defenhidramin yang diberikan per oral mencapai kadar maksimum dalam darah kurang lebih 2 jam dengan waktu paruh 4 jam. Distribusi obat ini luas, termasuk di SSP dan dalam jumlah kecil dijumpai di dalam urine dengan bentuk metabolit. Eliminasi obat ini cepat pada anak dan dapat menginduksi enzim mikrosomal hepatik. Hal ini juga tampaknya sama pada obat generasi I lainnya. Sementara itu, obat generasi II, seperti astemizol, terfenadin, dan loratadin diabsorbsi secara cepat disaluran cerna dan dimetabolisme didalam hati melalui sistem mikrosomal hepatik P450.
    DAFTAR PUSTAKA


    Staf Pengajar Departemen Farmakologi Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya. 2009. Kumpulan Kuliah Farmakologi. Jakarta : Buku Kedokteran EGC.

    BalasHapus
  21. pertanyaan no 4
    menurut artikel yang saya baca ctm adalah turunan alkilamin yang merupakan antihistamin dengan indeks terapetik (batas keamanan) cukup besar dengan efek samping dan toksisitas yang relatif rendah.

    BalasHapus
  22. hai hesty
    bahan alam yang dapat digunakan sebagai alternatif adalah lidah buaya, caranya adalah Potong daun lidah buaya, lalu oleskan cairan atau gelnya ke bagian kulit yang bermasalah

    BalasHapus
    Balasan
    1. saya setuju dengan kak cindra, disini saya hanya menambahkan saja obat alam lainnya yang dapat digunakan untuk alergi adalah biji jintan hitam dan herba sambiloto

      Hapus
    2. selain bahan-bahan tersebut jahe , kunyit dan teh hijau pun dapat juga digunakan sebagai antihistamin

      Hapus
  23. Klorfeniramin maleat adalah turunan alkilamin yang merupakan antihistamin dengan indeks terapetik (batas keamanan) cukup besar dengan efek samping dan toksisitas yang relatif rendah. Klorfeniramin maleat merupakan obat golongan antihistamin penghambat reseptor H1 (AH1).Pemasukan gugus klor pada posisi para cincin aromatik feniramin maleat akan meningkatkan aktifitas antihistamin.

    BalasHapus
  24. nmr 2
    mnrt saya ada tumbuhan alami yg di gunakan utk mengatasi alergi seperti daun sirih utk mengatasi gatal2

    BalasHapus
    Balasan
    1. saya setuju dengan pendapat saudari ana, karena sekarang peneliti mulai mengembangkan senyawa alam sebagai zat aktif obat yang mana diharapkan dapat bekerja secara maksimal dan minim efek samping contohnya daun sirih

      Hapus
  25. 3. Histamin dapat menimbulkan efek bila berinteraksi dengan reseptor histaminergik, yaitu reseptor H1, H2, H3. Interaksi histamin dengan H₁menyebabkan kontraksi dengan otot polos usus dan bronki, meningkatkan permeabilitas vaskular dan meningkatkan sekresi mukus, yang dihubungkan dengan peningkatan cGMP dalam sel. Interaksi dengan resptor H₁juga menyebabkan vasodilatasi arteri sehingga permeabel terhadap cairan dan plasma protein, yang menyebabkan sembab, pruritik, dermatitis dan urtikaria. Efek ini diblok oleh antagonis H1.
    Interakasi histamin dengan reseptor H₂dapat meningkatkan sekresi asam lambung dan kecepatan kerja jantung. Produksi asam lambung disebabkan penurunan cGMP dalam sel dan peningkatan cAMP. Peningkatan seksresi asam lambung dapat menyebabkan tukak lambung. Efek ini diblok oleh antagonis H2.
    Reseptor H₃ adalah reseptor histamin yang baru diketemukan pada tahun 1987 oleh Arrang dkk., terletak pada ujung saraf aringan otak dan jaringan perifer, yang mengontrol sintesis dan pelepasan histamin, mediator alergi lain dan peradangan. Efek ini diblok oleh antagonis H3.

    BalasHapus
  26. saya akan menjawab prtnyaan tentang apakah obat ini dapt di minum pada anak usia 3 tahun? menurut saya fenotiazin ini bukan obat yang di anjurkan untuk anak-anak dan bukan obat alternatif.

    BalasHapus
  27. obat bahan alam untuk mengatasi alergi yang saya baca adalah lidah buaya, minyak kelapa, kunyit, lemon

    BalasHapus
  28. Ctm merupakan antihistamin Turunan alkilamin

    BalasHapus
  29. saya akan menjawab pertanyann nomor 1,iya bisa diberikan pada anak namun harus ada pengontrolan dosis dan kesesuaian pemakaian agar tidak menimbulkan efek yang tidak di inginkan, contohnya proklorperazin yang berindikasi untuk mual, muntah berat dan gangguan labirin dapat diberikan pada anak 6-12 tahun: 1,5-3 mg, 2-3 kali sehari; 2-5 tahun: 1,5 mg, 2 kali sehari. Hindari pemakaian pada anak dengan berat badan kurang dari 10 kg.

    BalasHapus
  30. CTM merupakan turunan dari propilamin dengan efek lebih besar dari feniramin maleat yang merupakan turunan yang sama

    BalasHapus
  31. Jadi gini hesty, untuk jawaban nomor 4 itu CTM turunan dari alkilamin, saya mendapatkan literatur dari Siswandono (1995). Klorfeniramin maleat (CTM) adalah turunan alkilamin yang merupakan antihistamin dengan indeks terapetik (batas keamanan) cukup besar dengan efek samping dan toksisitas yang relatif rendah

    BalasHapus
  32. no. 4 CTM merupakan turunan dari propilamin dimana ctm ini mempunyai aktivitas lebih besar 20 kali dari feniramin maleat yang juga merupakan turunan dari propilamin

    BalasHapus
  33. Saya akan menjawab pertanyaan nomor 4.
    Klorfeniramin maleat merupakan turunan alkilamin/propilamin. Karena turunan alkilamin sama dengan propilamin, dimana pada struktur umumnya sama-sama memiliki gugus feniramin. Dann, struktur ctm memiliki gugus feniramin

    BalasHapus
  34. Klorfeniramin maleat adalah turunan alkilamin yang merupakan antihistamin dengan indeks terapetik (batas keamanan) cukup besar dengan efek samping dan toksisitas yang relatif rendah. Klorfeniramin maleat merupakan obat golongan antihistamin penghambat reseptor H1 (AH1)

    BalasHapus
  35. 3. Antihistamin adalah obat yang dapat mengurangi atau menghilangkan kerja histamin dalam tubuh melalui mekanisme penghambatan bersaing pada sisi reseptor H1, H2 dan H3. Efek antihistamin bukan suatu reaksi antigen-antibodi karena tidak dapat menetralkan atau mengubah efek antihistamin yang sudah terjadi. Antihistamin pada umumnya tidak dapat mencegah produksi histamin. Antihistamin bekerja terutama dengan menghambat secara bersaing interaksi histamin dengan reseptor khas.
    Berdasarkan hambatan pada reseptor khas, antihistamin di bagi menjadi 3 kelompok, yaitu Antagonis H1, Antagonis H2, dan Antagonis H3

    BalasHapus