ANTIHISTAMIN
Antihistamin (antagonis
histamin) adalah zat yang mampu mencegah penglepasan atau kerja histamin.
Istilah antihistamin dapat digunakan untuk menjelaskan antagonis histamin yang mana
pun, namun seringkali istilah ini digunakan untuk merujuk kepada antihistamin
klasik yang bekerja pada reseptor histamin H1.
Antihistamin ini
biasanya digunakan untuk mengobati reaksi alergi, yang disebabkan oleh tanggapan
berlebihan tubuh terhadap alergen (penyebab alergi), seperti serbuk sari
tanaman. Reaksi alergi ini menunjukkan penglepasan histamin dalam jumlah
signifikan di tubuh.
MACAM-MACAM ANTIHISTAMIN
MACAM-MACAM ANTIHISTAMIN
1. Antihistamin (AH1) non sedatif.
a. Terfenidin
Merupakan suatu derivat piperidin, struktur kimia. Terfenidin diabsorbsi sangat cepat dan mencapai kadar puncak setelah 1-2 jam pemberian. Mempunyai mula kerja yang cepat dan lama kerja panjang. Obat ini cepat dimetabolisme dan didistribusi luas ke berbagai jaringan tubuh. Terfenidin diekskresi melalui faeces (60%) dan urine (40%). Waktu paruh 16-23 jam. Efek maksimum telah terlihat sekitar 3-4 jam dan bertahan selama 8 jam setelah pemberian. Dosis 60 mg diberikan 2 X sehari.
Merupakan suatu derivat piperidin, struktur kimia. Terfenidin diabsorbsi sangat cepat dan mencapai kadar puncak setelah 1-2 jam pemberian. Mempunyai mula kerja yang cepat dan lama kerja panjang. Obat ini cepat dimetabolisme dan didistribusi luas ke berbagai jaringan tubuh. Terfenidin diekskresi melalui faeces (60%) dan urine (40%). Waktu paruh 16-23 jam. Efek maksimum telah terlihat sekitar 3-4 jam dan bertahan selama 8 jam setelah pemberian. Dosis 60 mg diberikan 2 X sehari.
b. Astemizol
Merupakan derivat piperidin yang dihubungkan dengan cincin benzimidazol, struktur kimia. Astemizol pada pemberian oral kadar puncak dalam darah akandicapai setelah 1 jam pemberian. Mula kerja lambat, lama kerja panjang. Waktu paruh 18-20 hari. Di metabolisme di dalam hati menjadi metabolit aktif dan tidak aktif dan di distriibusi luas keberbagai jaringan tubuh. Metabolitnya diekskresi sangat lambat, terdapat dalam faeses 54% sampai 73% dalam waktu 14 hari. Ginjal bukan alat ekskresi utama dalam 14 hari hanya ditemukan sekitar 6% obat ini dalam urine. Terikat dengan protein plasma sekitar 96%.
Merupakan derivat piperidin yang dihubungkan dengan cincin benzimidazol, struktur kimia. Astemizol pada pemberian oral kadar puncak dalam darah akandicapai setelah 1 jam pemberian. Mula kerja lambat, lama kerja panjang. Waktu paruh 18-20 hari. Di metabolisme di dalam hati menjadi metabolit aktif dan tidak aktif dan di distriibusi luas keberbagai jaringan tubuh. Metabolitnya diekskresi sangat lambat, terdapat dalam faeses 54% sampai 73% dalam waktu 14 hari. Ginjal bukan alat ekskresi utama dalam 14 hari hanya ditemukan sekitar 6% obat ini dalam urine. Terikat dengan protein plasma sekitar 96%.
c. Mequitazin
Merupakan suatu derivat fenotiazin, struktur kimia lihat Gbr.1. Absorbsinya cepat pada pemberian oral, kadar puncak dalam plasma dicapai setelah 6 jam pemberian. Waktu paruh 18 jam, Onset of action cepat, duration of action lama. Dosis 5 mg 2 X sehari atau 10 mg 1 X sehari (malam hari).
Merupakan suatu derivat fenotiazin, struktur kimia lihat Gbr.1. Absorbsinya cepat pada pemberian oral, kadar puncak dalam plasma dicapai setelah 6 jam pemberian. Waktu paruh 18 jam, Onset of action cepat, duration of action lama. Dosis 5 mg 2 X sehari atau 10 mg 1 X sehari (malam hari).
d. Loratadin
Adalah suatu derivat azatadin, Penambahan atom C1 meninggikan potensi dan lama kerja obat loratadin. Absorbsinya cepat. Kadar puncak dicapai setelah 1 jam pemberian. Waktu paruh 8-11 jam, mula kerja sangat cepat dan lama kerja adalah panjang. Waktu paruh descarboethoxy-loratadin 18-24 jam. Pada pemberian 40 mg satu kali sehari selama 10 hari ternyata mendapatkan kadar puncak dan waktu yang diperlukan tidak banyak berbeda setiap harinya hal ini menunjukkan bahwa tidak ada kumulasi, obat ini di distribusi luas ke berbagai jaringan tubuh. Matabolitnya yaitu descarboetboxy-loratadin (DCL) bersifat aktif
secara farmakologi clan juga tidak ada kumulasi. Loratadin dibiotransformasi dengan cepat di dalam hati dan di ekskresi 40% di dalam urine dan 40% melalui empedu. Pada waktu ada gangguan fiungsi hati waktu paruh memanjang. Dosis yang dianjurkan adalah 10 mg 1 X sehari.
Adalah suatu derivat azatadin, Penambahan atom C1 meninggikan potensi dan lama kerja obat loratadin. Absorbsinya cepat. Kadar puncak dicapai setelah 1 jam pemberian. Waktu paruh 8-11 jam, mula kerja sangat cepat dan lama kerja adalah panjang. Waktu paruh descarboethoxy-loratadin 18-24 jam. Pada pemberian 40 mg satu kali sehari selama 10 hari ternyata mendapatkan kadar puncak dan waktu yang diperlukan tidak banyak berbeda setiap harinya hal ini menunjukkan bahwa tidak ada kumulasi, obat ini di distribusi luas ke berbagai jaringan tubuh. Matabolitnya yaitu descarboetboxy-loratadin (DCL) bersifat aktif
secara farmakologi clan juga tidak ada kumulasi. Loratadin dibiotransformasi dengan cepat di dalam hati dan di ekskresi 40% di dalam urine dan 40% melalui empedu. Pada waktu ada gangguan fiungsi hati waktu paruh memanjang. Dosis yang dianjurkan adalah 10 mg 1 X sehari.
2. Terdapat beberapa jenis antihistamin, yang dikelompokkan berdasarkan
sasaran kerjanya terhadap reseptor histamin.
a. Antagonis Reseptor Histamin H1
Secara klinis
digunakan untuk mengobati alergi. Contoh obatnya adalah: difenhidramina,
loratadina, desloratadina, meclizine, quetiapine (khasiat antihistamin
merupakan efek samping dari obat antipsikotik ini), dan prometazina.
b. Antagonis Reseptor Histamin H2
Reseptor histamin
H2 ditemukan di sel-sel parietal. Kinerjanya adalah meningkatkan sekresi asam
lambung. Dengan demikian antagonis reseptor H2 (antihistamin H2) dapat
digunakan untuk mengurangi sekresi asam lambung, serta dapat pula dimanfaatkan
untuk menangani peptic ulcer dan penyakit refluks gastroesofagus. Contoh
obatnya adalah simetidina, famotidina, ranitidina, nizatidina, roxatidina, dan
lafutidina.
c. Antagonis Reseptor Histamin H3
Antagonis H3
memiliki khasiat sebagai stimulan dan memperkuat kemampuan kognitif.
Penggunaannya sedang diteliti untuk mengobati penyakit Alzheimer's, dan
schizophrenia. Contoh obatnya adalah ciproxifan, dan clobenpropit.
d. Antagonis Reseptor Histamin H4
Memiliki khasiat
imunomodulator, sedang diteliti khasiatnya sebagai antiinflamasi dan analgesik.
Contohnya adalah tioperamida.Beberapa obat lainnya juga memiliki khasiat antihistamin. Contohnya
adalah obat antidepresan trisiklik dan antipsikotik. Prometazina adalah obat
yang awalnya ditujukan sebagai antipsikotik, namun kini digunakan sebagai
antihistamin.
Senyawa-senyawa lain seperti cromoglicate dan nedocromil, mampu mencegah penglepasan histamin dengan cara menstabilkan sel mast, sehingga mencegah degranulasinya.
Senyawa-senyawa lain seperti cromoglicate dan nedocromil, mampu mencegah penglepasan histamin dengan cara menstabilkan sel mast, sehingga mencegah degranulasinya.
Derivat Fenotiazin
Farmakodinamik : Salah satu derivat dari
fenotiazin adalah Klorpromazin (CPZ) adalah
2-klor-N-(dimetil-aminopropil)-fenotiazin. Derivat fenotiazin lain dapat dengan
cara substitusi pada tempat 2 dan 10 inti fenotiazin. CPZ (largactill)
berefek farmakodinamik sangat luas. Largactill diambil dari kata large action. Sususan
Saraf Pusat : CPZ menimbulkan efek sedasi disertai sikap acuh
tak acuh terhadap rangasangan lingkungan. Pada pemakaina lama dapat timbul
toleransi terhadap efek sedasi. Timbulnya sedasi amat tergantung dari status
emisinal penderita sebelum minum obat.
Klorpromazin berefek antispikosis terlepas dari efek sedasinya. CPZ
menimbulkan efek menenangkan pada hewan buas. Efek ini juga dimiliki oleh obat
obat lain, misalnya barbiturat, narkotij, memprobamat, atau klordiazepoksid.
Bebeda dengan barbiturat, CPZ tidak dapat mencengah timbulnya konvulsi akibat
rangsang listrik maupun rangsang obat. Semua derivat fenotiazin mempengaruhi
gangglia basal, sehimgga menimbulkan gejala parkinsonisme (efek ekstrapiramidal
).CPZ dapat mempengaruhi atau mencengah muntah yang disebabkan oleh rangsangan
pada chemo reseptor trigger zone. Muntah disebabkan oleh kelainan saluran cerna
atau vestibuler.fenotiazin terutama yang potensinya rendah menurunkan ambang
bangkitan sehingga penggunanya pada pasien epilepsi harus berhati-hati. Otot
Rangka: CPZ dapat menimbulkan relaksasi otot skelet yang berada daam
keadaan spastik. Cara kerjanya relaksasi ini diduga bersifat sentral, sebab
sambungan saraf otot dan medula spinalis tidak dipengaruhi CPZ.
Farmakokinetik:
Kebanyakan antipsikosis absorbsi sempurna, sebagian
diantaranya mengalami metabolisme lintas pertama. Biovailabilitas klorpromazin
dan tioridazin berkisar antara 25-35% sedangkan haloperidol mencapai 65%.
Kebanyakan antipsikosis bersifat larut dalam lemak danterikat kuat dengan
protein plasma(92-99%) serta mamiliki volume distribusi besar ( >7
L/kg). Metabolit klorpromazin ditemukan di urin sampai beberapa minggu setelah
pemberian obat terakhir.
Mekanisme kerja:
Obat
anti psikosis memblokade dopamine pada reseptor pasca sinaptik neurondi otak, prosesnya di sistem limbik dan sistem
ekstrapiramidal (dopamine D2 reseptor antagonis).
Obat anti psikosis yang baru (misalnya risperidone) di samping berafinitas
terhadap dopamine D2 reseptor juga terhadap serotonin.
Efek samping:
CPZ menghambat ovulasi dan menstruasi. CPZ juga
menghambat sekresi ACTH. Efek terhadap sistem endrokin ini terjadi berdasarkan
efeknya terhadap hipotalamus. Semua fenotiazin, kecual klozapin enimbulkan
hiperprolaktinea lewat penghambatan efek sentral dopamin.batas keamanan CPZ
cukup lebar, sehingga obat ini cukup aman. Efek samping umumnyamerupaan
perluasan efek farmakodinamiknya. Gejala idiosinkrasi mungkin timbul,berupa
ikterus, dermatitis dan leukopenia. Reaksi ini disertai eosinofilia dalam darah
perifer.
Kardiovaskular: CPZ
dapat menimbulkan hipotensi berdasarkan beberapa hal, yaitu:
·
Refleks presor yang penting untuk mempertahankan
tekanan darah yang dihambat oleh CPZ.
- CPZ berefek a-bloker.
- CPZ menimbulkan efek intropotik negatif pada jantung.
Derivat
etilendiamin
1.
Antazolin efek antihistaminnya tidak terlalu kuat
tetapi tidak merangsang selaput lendir sehingga cocok digunakan pada pengobatan
gejala-gejala alergis pada mata dan hidung.
a)
Ripelenamin
digunakan sebagai krem pada gatal-gatal pada alergi terhadap sinar
matahari, sengatan serangga dan lain-lain.
b)
Mepirin
derivat metoksi dari tripilennamin yang digunakan dalam kombinasi dengan
feneramin dan fenilpropanolamin terhadap hypiper.
c)
Klemizol
adalah derivat –klor yang hanya digunakan pada salep atau suppositoria
antiwasir.
Derivat provilamin
1)
Feniramin : Memiliki daya kerja
antihistamin dan meredakan efek batuk yang cukup baik.
2)
Klorfeneramin : adalah derivat klor dengan daya kerja 10x
lebih kuat dan dengan derajat toksisitas yang sama.
3)
Deksklorfeneramin : Adalah bentuk dekltronya
2x lebih kuat dari pada bentuk trasemisnya.
4)
Tripolidin : Adalah derivat
dengan rantai sisi pirolidin yang daya kerjanya agak kuat. Mulai kerjanya pesat
dan bertahan lama sampai 24jam (tablet retard).
Sifat-sifat dan mekanisme kerja antihistaminika
Antihistaminika adalah zat-zat yang
dapat mengurangi atau menghindarkan efek atas tubuh dari histamin yang
berlebihan, sebagaimana terdapat pada gangguan-gangguan alergi. Bila dilihat
dari rumus molekulnya, bahwa inti molekulnya adalah etilamin, yang juga
terdapat dalam molekul histamin. Gugusan etilamin ini seringkali berbentuk
suatu rangkaian lurus, tetapi dapat pula merupakan bagian dari suatu struktur
siklik,misalnya antazolin.
Antihistaminika tidak mempunyai
kegiatan-kegiatan yang tepat berlawanan dengan histamin seperti halnya dengan
adrenalin dan turunan-turunannya, tetapi melakukan kegiatannya melalui
persaingan substrat atau ”competitive inhibition”. Obat-obat inipun tidak
menghalang-halangi pembentukan histamin pada reaksi antigen-antibody, melainkan
masuknya histamin kedalam unsur-unsur penerima didalam sel (reseptor-reseptor)
dirintangi dengan menduduki sendiri tempatnya itu. Dengan kata lain karena
antihistaminik mengikat diri dengan reseptor-reseptor yang sebelumnya harus
menerima histamin, maka zat ini dicegah untuk melaksanakan kegiatannya yang
spesifik terhadap jaringan-jaringan. Dapat dianggap etilamin lah dari
antihistaminika yang bersaing dengan histamin untuk sel-sel reseptor tersebut.
Efek samping
Karena antihistaminika juga memiliki
khasiat menekan pada susunan saraf pusat, maka efek sampingannya yang
terpenting adalah sifat menenangkan dan menidurkannya. Sifat sedatif ini adalah
paling kuat pada difenhidramin dan promethazin, dan sangat ringan pada
pirilamin dan klorfeniramin. Kadang-kadang terdapat stimulasi dari pusat,
misalnya pada fenindamin. Guna melawan sifat-sifat ini yang seringkali tidak
diinginkan pemberian antihistaminika dapat disertai suatu obat perangsang
pusat, sebagai amfetamin. Kombinasi dengan obat-obat pereda dan narkotika
sebaiknya dihindarkan. Efek sampingan lainnya adalah agak ringan dan merupakan
efek daripada khasiat parasimpatolitiknya yang lemah, yaitu perasaan kering di
mulut dan tengg orokan, gangguan-gangguan pada saluran lambung usus, misalnya
mual, sembelit dan diarrea. Pemberian antihistaminika pada waktu makan dapat
mengurangi efek sampingan ini.
PERTANYAAN
PERTANYAAN
- Apakah anak usia dibawah 3 tahun dapat menggunakan obat fenotiazin ?
- Apakah ada obat dari bahan alam untuk mengatasi alergi ?
- Bagaimana mekanisme antihistamin dalam mengatasi alergi ?
- CTM termasuk obat antihistamin turunan apa ?